• Rumalla Indonesia

Investasi Properti, Risikonya apa saja sih?


Investasi dalam bentuk properti salah satu bentuk investasi yang sudah familiar sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Bahkan hingga kini, properti masih menjadi primadona investor untuk memutar dan menyimpan uangnya dalam bentuk aset.

Walaupun masih menjadi primadona, akan tetapi tidak jarang kasus investasi properti berujung rugi.

Uangnya tidak dapat diputar, ketika ingin dijual tidak kunjung laku, mahalnya biaya perawatan, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, sebelum memutuskan investasi properti, kita harus mengetahui risikonya. Lalu, apa saja sih risiko yang mungkin ditemui?


1. Sifat Properti yang Kurang Liquid

Kurang liquid dapat diartikan sulit untuk dicairkan. Karena harga properti yang cenderung mahal dan daya jual beli masyarakat masih kurang, properti menjadi investasi yang sulit untuk dijual atau dicairkan.

Sifat properti yang kurang liquid dapat menjadi pertimbangan penting sebelum memutuskan berinvestasi. Kamu harus membaca skema pasar dan perkembangan lokasi calon propertimu. Pertanyaan seperti, apakah lima sampai sepuluh tahun lagi lokasi ini akan berkembang, sangatlah penting.


2. Penyusutan Bangunan

Jika kamu berinvestasi dalam bentuk tanah, kamu tidak perlu khawatir dengan risiko ini. Berbeda dengan kamu yang berinvestasi dalam bentuk bangunan, baik rumah ataupun toko. Pada dasarnya, setiap bangunan memiliki umur, entah itu 20, 30, atau 40 tahun, tergantung fungsi, kualitas, dan kekokohan konstruksi.

3. Beban Perawatan

Selain mengalami penyusutan, setiap bangunan membutuhkan perawatan rutin. Entah itu dari segi cat, fondasi, dan furnitur yang ada. Beban perawatan adalah hal penting yang harus kamu hitung pertahunnya.

Semakin minimnya perawatan, maka penyusutan bangunan juga semakin cepat.Sehingga beban perawatan bukanlah pengeluaran yang bisa dihindari. Terlebih, jika propertimu digunakan untuk kegiatan industri.


4. Kekosongan Properti

Masih berkaitan dengan penyusutan bangunan dan beban perawatan, kekosongan properti snagat berdampak fatal. Ketika properti tidak dihuni, tentu umur bangunan akan semakin cepat, akibat kurangnya perawawatn rutin.


Hal ini akan berdampak, properti kamu menjadi terlantar. Jika hal ini sudah terjadi, maka daya sewa atau beli akan menurun dan tentu kamu akan sulit memutar investasimu.


5. Bencana Alam

Bencana alam memang tidak bisa diprediksi. Akan tetapi, kamu bisa mencegahnya dengan tidak membeli properti di daerah rawan bencana. Lokasi rawan bencana dapat meliputi lereng gunung, pesisir pantai, ataupun daerah rawan longsor.


0 tampilan

Postingan Terakhir

Lihat Semua